Ribuan Warga Padati Yaqowiyu Jatinom, 54 Ribu Apem Disebar di Klaten.// ist

Meriah! Ribuan Apem Dibagikan pada Tradisi Yaqowiyu ke-406 di Jatinom Klaten

KLATEN – Ribuan warga tumpah ruah di Oro-oro Sendang Klampeyan untuk menyaksikan puncak tradisi Yaqowiyu Jatinom pada Jumat (8/8/2025). Momen yang paling dinantikan tentu saja ritual sebaran apem, sebuah warisan budaya yang sudah berlangsung turun-temurun.

Usai salat Jumat di Masjid Gedhe Jatinom, dua gunungan berisi ribuan kue apem diarak menuju Siti Hinggil Oro-oro Sendang Klampeyan. Tradisi ini merupakan peninggalan Ki Ageng Gribig, tokoh penyebar Islam pada masa Mataram Islam. Hingga kini, masyarakat percaya tradisi ini membawa berkah, sehingga setiap tahun lokasi ini selalu dipadati pengunjung dari berbagai daerah.

Puncak acara juga dihadiri Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, bersama Wakil Bupati Benny Indra Ardhianto, Forkopimda Klaten, anggota DPR RI Ravindra Airlangga yang juga keturunan Ki Ageng Gribig, serta perwakilan dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Dalam sambutannya, Bupati Hamenang mengapresiasi panitia dan masyarakat yang turut melestarikan tradisi berusia ratusan tahun ini.

“Antusiasme masyarakat menjadi bukti kuatnya semangat menjaga warisan budaya. Semoga tradisi Yaqowiyu selalu membawa berkah dan terus dilestarikan oleh generasi penerus,” ujarnya dikutip WargaJateng.com.

Setelah doa bersama, gunungan apem dibagikan kepada warga yang telah menunggu dengan penuh harap. Puncak euforia terjadi saat ribuan apem disebarkan dari dua menara yang ada di Oro-oro Sendang Klampeyan.

Ketua Umum Yayasan Pengelola Pelestari Peninggalan Kyai Ageng Gribig (P3KAG), Ebta Tri Cahyo, mengungkapkan bahwa seluruh apem yang dibagikan berasal dari sumbangan masyarakat.

Tahun ini, terkumpul sekitar 54.000 kue apem untuk dibagikan pada puncak acara Yaqowiyu ke-406.

“Alhamdulillah, perayaan Yaqowiyu tahun ini berjalan lancar. Semua apem yang tersebar adalah wujud gotong royong masyarakat Jatinom dan sekitarnya,” jelasnya.

Tradisi ini bukan sekadar pembagian kue, melainkan juga simbol kebersamaan, sedekah, dan doa bersama untuk kesejahteraan seluruh masyarakat. Makin Tahu Indonesia.

Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *